Banyak yang Belum tau, Ternyata seperti ini Hukum Mengubur
Ari-ari Bayi!
Terdapat kebiasaan di masyarakat tatkala seorang ibu
melahirkan bayi. Biasanya pihak keluarga akan mengubur ari-ari atau plasenta
ketika bayi sudah lahir.
Ari-ari tersebut biasanya dikubur di sudut rumah dekat pintu
masuk utama. Tetapi, terdapat beberapa perbedaan perlakuan dalam penguburan
ari-ari, tergantung kebiasaan di masing-masing daerah.
Diatas tempat menanam ari-ari biasanya diberi penerangan,
bisa lampu minyak atau listrik. Ada juga yang memberi bunga, bahkan beberapa
barang berharga di atas tempat penguburan ari-ari, termasuk juga memberikan
kurungan.
Lantas, bagaimana Islam memandang kebiasaan ini?
Pada hakikatnya penanaman ari-ari ini dibenarkan dalam Islam
bahkan disunnahkan. Akan tetapi menyertakan berbagai benda yang bernilai
dianggap tidak baik. Karena termasuk dalam kategori tabdzir (menghamburkan).
Mengenai hukum sunnah mengubur ari-ari terdapat keterangan
dalam kitab Nihayatul Muhtaj
وَيُسَنُّ
دَفْنُ مَا انْفَصَلَ مِنْ
حَيٍّ لَمْ يَمُتْ حَالاًّ
أَوْ مِمَّنْ شَكَّ فِي
مَوْتِهِ كَيَدِ سَارِقٍ وَظُفْرٍ
وَشَعْرٍ وَعَلَقَةٍ ، وَدَمِ نَحْوِ
فَصْدٍ إكْرَامًا لِصَاحِبِهَا.
“Dan disunnahkan mengubur anggota
badan yang terpisah dari orang yang masih hidup dan tidak akan segera mati,
atau dari orang yang masih diragukan kematiannya, seperti tangan pencuri, kuku,
rambut, ‘alaqah (gumpalan darah), dan darah akibat goresan, demi menghormati
orangnya”.
Adapun tentang haramnya tabdzir sehubungan dengan menyetakan
segala benda di lingkungan kubur ari-ari terdapat dalam Hasyiyatul Bajuri:
(المُبَذِّرُ
لِمَالِهِ) أَيْ بِصَرْفِهِ فِيْ
غَيْرِ مَصَارِفِهِ (قَوْلُهُ فِيْ غَيْرِ مَصَارِفِهِ)
وَهُوَ كُلُّ مَا لاَ
يَعُوْدُ نَفْعُهُ إِلَيْهِ لاَ عَاجِلاً وَلاَ
آجِلاً فَيَشْمَلُ الوُجُوْهَ المُحَرَّمَةَ وَالمَكْرُوْهَةَ.
“(Orang yang berbuat tabdzir kepada
hartanya) ialah yang menggunakannya di luar kewajarannya. (Yang dimaksud: di
luar kewajarannya) ialah segala sesuatu yang tidak berguna baginya, baik
sekarang (di dunia) maupun kelak (di akhirat), meliputi segala hal yang haram
dan yang makruh”.
Demikian keterangan ini diambil dari buku Ahkamul Fuqaha’
Solusi Problematika Umat yang memuat hasil keputusan Bahtsul Masail Nahdlatul
Ulama dari 1926-2010.
Sumber: merdekasiana.com
