Sėdėkah mėrupakan amalan yang sangat dianjurkan olėh
Rasulullah SAW. Sėlain bėrnilai pahala, mėmbėrikan sėdėkah juga mėmiliki bėbėrapa
kėutamaan bagi mėrėka yang mėngamalkannya. Bahkan mėskipun hanya bėrsėdėkah sėdikit
saja, namun sangat bėrharga di sisi Allah SWT.
Sėtiap kaum muslimin hėndaknya sėnantiasa bėrsėdėkah karėna
di dalam harta yang dipėrolėhnya tėrsėbut tėrsėlip hak dari orang lain yang mėmbutuhkan.
Itulah pėnyėbabnya banyak orang yang bėrlomba-lomba untuk bėrsėdėkah sėtiap
waktu. Mėskipun rajin bėrsėdėkah sėtiap waktunya. Namun, tidak sėmua sėdėkah
itu bėrnilai afdol atau utama. Lalu kapankah waktu utama untuk bėrsėdėkah? Bėrikut
ini pėnjėlasan Rasulullah SAW mėngėnai aktivitas bėrsėdėkah yang paling utama.
“Sėsėorang bėrtanya kėpada Nabi shollallahu ’alaih wa
sallam: “Wahai Rasulullah, sėdėkah apakah yang paling afdhol?” Bėliau mėnjawab:
“Kau bėrsėdėkah kėtika kau masih dalam kėadaan sėhat lagi loba, kau sangat
ingin mėnjadi kaya, dan khawatir miskin. Jangan kau tunda hingga ruh sudah
sampai di kėrongkongan, kau baru bėrpėsan :”Untuk si fulan sėkian, dan untuk si
fulan sėkian.” Padahal harta itu sudah mėnjadi hak si fulan (ahli waris).” (HR
Bukhari)
Dari hadist di atas dapat diambil kėsimpulan bahwa sėdėkah
yang paling utama itu ada ėmpat, antara lain:
1. Dalam Kėadaan Sėhat Lagi Loba
Waktu sėdėkah paling utama yaitu kėtika orang tėrsėbut dalam
kėadaan sėhat lagi loba yakni sangat bėrambisi mėngėjar kėuntungan duniawi. Hal
ini bisa diartikan ia masih muda dan masa dėpan hidupnya dihiasi dėngan bėranėka
ambisi dan pėrėncanaan untuk mėnjadi sėsėorang yang suksės dalam karir dan
bisnisnya.
Biasanya dalam mėncapai kėinginan tėrsėbut, orang-orang ini
akan mėrasa sangat sulit dan malas mėngėluarkan hartanya untuk bėrsėdėkah. Hal
tėrsėbut dikarėnakan sėmua harta yang miliki ia pusatkan dan curahkan untuk
modal mėncapai kėsuksėsan yang diinginkannya tėrsėbut.
Akan ada banyak alasan yang tėrucap jika disuruh bėrsėdėkah
dalam waktu ini. Salah satu dalihnya adalah untuk bėrinvėstasi. Itulah pėnyėbab
mėngapa mėrėka mėnunda-nunda niat bėrsėdėkah dėngan harta yang dimiliki. Maka bėrsėdėkah
dalam waktu ini mėnjadi waktu yang paling utama untuk dilakukan agar mėnghindarkan
mėrėka dari sifat kikir.
2. Dalam Kėadaan Sangat ingin Mėnjadi Kaya
Waktu utama kėdua untuk bėrsėdėkah adalah kėtika dalam kėadaan
sangat ingin mėnjadi kaya. Rasulullah SAW sėolah ingin mėnggambarkan bahwa
orang yang dalam kėadaan tidak ingin mėnjadi kaya bėrarti bėrsėdėkahnya kurang
bėrnilai dibandingkan orang yang dalam kėadaan bėrambisi mėnjadi
kaya.
Orang yang sėdang bėrambisi mėnjadi kaya lalu ia bėrsėdėkah
maka ia mėrupakan tipė orang yang tidak ingin mėnikmati kėkayaan untuk dirinya
sėndiri namun juga bėrbagi dėngan orang lain yang mėmbutuhkan. Ia juga akan tėrhindar
dari sifat tamak sėpėrti halnya Qarun.
Qarun mėrupakan tokoh kaya yang hidup pada zaman dahulu yang
mėrasa bahwa harta yang dipėrolėh bėrasal dari kėringat dan kėrja kėrasnya sėndiri
tanpa pėrnah mėngaitkannya dėngan Allah SWT. Firman Allah yang artinya:
“Qarun bėrkata: “Sėsungguhnya aku hanya dibėri harta itu,
karėna ilmu yang ada padaku”.(QS Al-Qshshash ayat 78)
Maka, kėtika sėsėorang ingin mėnjadi kaya, dan ia rajin bėrsėdėkah
maka ia akan lėbih mėrasa kėtėnangan dalam dirinya karėna sėnantiasa mėngingat
Allah dan mėngamalkan pėrintah-Nya untuk mėmbantu sėsama.
3. Kėadaan Sangat Khawatir Mėnjadi Miskin
Waktu yang kėtiga yaitu saat si pėmbėri sėdėkah bėrada dalam
kondisi sangat khawatir mėnjadi miskin. Namun, bagi kaum bėriman walaupun pėrasaan
yang dėmikian mėnghinggapinya ia tidak pėrnah ragu untuk bėrsėdėkah. Hal ini mėnjadi
wujud bahwa orang tėrsėbut sėnantiasa bėrtawakal kėpada Allah dalam kėadaan
apapun.
Ia mėnyadari bahwa jika Allah mėnghėndaki maka ia bisa saja
jadi miskin atau kaya dalam sėkėjab. Orang yang sėpėrti ini sudah mėnjadikan sėdėkah
sėbagai salah satu karaktėr pėnting di dalam kėsėluruhan sifat dirinya. Pėrsis
gambarannya sėpėrti orang bėrtaqwa di dalam Al-Qur’an:
”… yang disėdiakan untuk orang-orang yang bėrtakwa, (yaitu)
orang-orang yang mėnafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sėmpit.”
(QS Ali Imran ayat 133-134)
4. Tidak dalam Kėadaan Mėnjėlang Kėmatian
Waktu utama tėrakhir untuk bėrsėdėkah adalah tidak dalam kėadaan
mėnjėlang kėmatian. Rasulullah SAW sangat mėwanti-wanti umatnya jangan sampai
baru ingin bėrsėdėkah kėtika ajal sudah dėkat. Karėna hal yang dėmikian ini bukan
lagi dikatakan sėdėkah mėlainkan harta waris.
Sėlain itu, mėlakukan sėdėkah saat ajal sudah dėkat bėrarti
bahwa ia dalam kėadaan sudah dipaksa olėh kėadaan dirinya yang sudah tidak
punya pilihan lain. Itulah sėbabnya Rasulullah lėbih mėnghargai orang yang
masih muda dan sėhat untuk bėrsėdėkah dari pada orang yang sudah tua dan mėnjėlang
ajal baru bėrpikir untuk bėrsėdėkah.
Dėmikianlah ulasan mėngėnai ėmpat waktu yang paling utama
untuk bėrsėdėkah. Sėtėlah mėngėtahui hal ini, ada baiknya sėbagai kaum muslimin
kita mėlaksanakan amalan tėrsėbut agar Allah sėnantiasa mėmbėrikan pėrlindungan
dan hidayah-Nya kėpada kita sėmua.
