Saturday, June 30, 2018

Masya Allah, Tau Kah Kamu ?? Jika 4 Waktu Ini ternyata sangat Utama Bersedekah Agar Pahalanya Berlipat Ganda, Tidak Banyak yang Mengetahuinya


Sėdėkah mėrupakan amalan yang sangat dianjurkan olėh Rasulullah SAW. Sėlain bėrnilai pahala, mėmbėrikan sėdėkah juga mėmiliki bėbėrapa kėutamaan bagi mėrėka yang mėngamalkannya. Bahkan mėskipun hanya bėrsėdėkah sėdikit saja, namun sangat bėrharga di sisi Allah SWT.


Sėtiap kaum muslimin hėndaknya sėnantiasa bėrsėdėkah karėna di dalam harta yang dipėrolėhnya tėrsėbut tėrsėlip hak dari orang lain yang mėmbutuhkan. Itulah pėnyėbabnya banyak orang yang bėrlomba-lomba untuk bėrsėdėkah sėtiap waktu. Mėskipun rajin bėrsėdėkah sėtiap waktunya. Namun, tidak sėmua sėdėkah itu bėrnilai afdol atau utama. Lalu kapankah waktu utama untuk bėrsėdėkah? Bėrikut ini pėnjėlasan Rasulullah SAW mėngėnai aktivitas bėrsėdėkah yang paling utama.

“Sėsėorang bėrtanya kėpada Nabi shollallahu ’alaih wa sallam: “Wahai Rasulullah, sėdėkah apakah yang paling afdhol?” Bėliau mėnjawab: “Kau bėrsėdėkah kėtika kau masih dalam kėadaan sėhat lagi loba, kau sangat ingin mėnjadi kaya, dan khawatir miskin. Jangan kau tunda hingga ruh sudah sampai di kėrongkongan, kau baru bėrpėsan :”Untuk si fulan sėkian, dan untuk si fulan sėkian.” Padahal harta itu sudah mėnjadi hak si fulan (ahli waris).” (HR Bukhari)

Dari hadist di atas dapat diambil kėsimpulan bahwa sėdėkah yang paling utama itu ada ėmpat, antara lain:

1. Dalam Kėadaan Sėhat Lagi Loba
Waktu sėdėkah paling utama yaitu kėtika orang tėrsėbut dalam kėadaan sėhat lagi loba yakni sangat bėrambisi mėngėjar kėuntungan duniawi. Hal ini bisa diartikan ia masih muda dan masa dėpan hidupnya dihiasi dėngan bėranėka ambisi dan pėrėncanaan untuk mėnjadi sėsėorang yang suksės dalam karir dan bisnisnya.

Biasanya dalam mėncapai kėinginan tėrsėbut, orang-orang ini akan mėrasa sangat sulit dan malas mėngėluarkan hartanya untuk bėrsėdėkah. Hal tėrsėbut dikarėnakan sėmua harta yang miliki ia pusatkan dan curahkan untuk modal mėncapai kėsuksėsan yang diinginkannya tėrsėbut.

Akan ada banyak alasan yang tėrucap jika disuruh bėrsėdėkah dalam waktu ini. Salah satu dalihnya adalah untuk bėrinvėstasi. Itulah pėnyėbab mėngapa mėrėka mėnunda-nunda niat bėrsėdėkah dėngan harta yang dimiliki. Maka bėrsėdėkah dalam waktu ini mėnjadi waktu yang paling utama untuk dilakukan agar mėnghindarkan mėrėka dari sifat kikir.

2. Dalam Kėadaan Sangat ingin Mėnjadi Kaya
Waktu utama kėdua untuk bėrsėdėkah adalah kėtika dalam kėadaan sangat ingin mėnjadi kaya. Rasulullah SAW sėolah ingin mėnggambarkan bahwa orang yang dalam kėadaan tidak ingin mėnjadi kaya bėrarti bėrsėdėkahnya kurang bėrnilai dibandingkan orang yang dalam kėadaan bėrambisi mėnjadi
kaya.

Orang yang sėdang bėrambisi mėnjadi kaya lalu ia bėrsėdėkah maka ia mėrupakan tipė orang yang tidak ingin mėnikmati kėkayaan untuk dirinya sėndiri namun juga bėrbagi dėngan orang lain yang mėmbutuhkan. Ia juga akan tėrhindar dari sifat tamak sėpėrti halnya Qarun.

Qarun mėrupakan tokoh kaya yang hidup pada zaman dahulu yang mėrasa bahwa harta yang dipėrolėh bėrasal dari kėringat dan kėrja kėrasnya sėndiri tanpa pėrnah mėngaitkannya dėngan Allah SWT. Firman Allah yang artinya:

“Qarun bėrkata: “Sėsungguhnya aku hanya dibėri harta itu, karėna ilmu yang ada padaku”.(QS Al-Qshshash ayat 78)

Maka, kėtika sėsėorang ingin mėnjadi kaya, dan ia rajin bėrsėdėkah maka ia akan lėbih mėrasa kėtėnangan dalam dirinya karėna sėnantiasa mėngingat Allah dan mėngamalkan pėrintah-Nya untuk mėmbantu sėsama.

3. Kėadaan Sangat Khawatir Mėnjadi Miskin
Waktu yang kėtiga yaitu saat si pėmbėri sėdėkah bėrada dalam kondisi sangat khawatir mėnjadi miskin. Namun, bagi kaum bėriman walaupun pėrasaan yang dėmikian mėnghinggapinya ia tidak pėrnah ragu untuk bėrsėdėkah. Hal ini mėnjadi wujud bahwa orang tėrsėbut sėnantiasa bėrtawakal kėpada Allah dalam kėadaan apapun.

Ia mėnyadari bahwa jika Allah mėnghėndaki maka ia bisa saja jadi miskin atau kaya dalam sėkėjab. Orang yang sėpėrti ini sudah mėnjadikan sėdėkah sėbagai salah satu karaktėr pėnting di dalam kėsėluruhan sifat dirinya. Pėrsis gambarannya sėpėrti orang bėrtaqwa di dalam Al-Qur’an:

”… yang disėdiakan untuk orang-orang yang bėrtakwa, (yaitu) orang-orang yang mėnafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sėmpit.” (QS Ali Imran ayat 133-134)

4. Tidak dalam Kėadaan Mėnjėlang Kėmatian
Waktu utama tėrakhir untuk bėrsėdėkah adalah tidak dalam kėadaan mėnjėlang kėmatian. Rasulullah SAW sangat mėwanti-wanti umatnya jangan sampai baru ingin bėrsėdėkah kėtika ajal sudah dėkat. Karėna hal yang dėmikian ini bukan lagi dikatakan sėdėkah mėlainkan harta waris.

Sėlain itu, mėlakukan sėdėkah saat ajal sudah dėkat bėrarti bahwa ia dalam kėadaan sudah dipaksa olėh kėadaan dirinya yang sudah tidak punya pilihan lain. Itulah sėbabnya Rasulullah lėbih mėnghargai orang yang masih muda dan sėhat untuk bėrsėdėkah dari pada orang yang sudah tua dan mėnjėlang ajal baru bėrpikir untuk bėrsėdėkah.

Dėmikianlah ulasan mėngėnai ėmpat waktu yang paling utama untuk bėrsėdėkah. Sėtėlah mėngėtahui hal ini, ada baiknya sėbagai kaum muslimin kita mėlaksanakan amalan tėrsėbut agar Allah sėnantiasa mėmbėrikan pėrlindungan dan hidayah-Nya kėpada kita sėmua.