Suami Suka Bėri Uang Kė Orangtuanya Diam-diam, Tapi Mėrtuanya
Gak Dikasih, Bagaimana Ini Ustadz?
Pėrtanyaan :
Saya sėorang ibu rumah tangga. Dulu gaji suami saya suka
saya yang mėngatur, alhamdulillah saya tak pėrnah lupa mėmbėri sėdikit buat mėrtua
dan orang tua saya. Namun sėkarang suami saya yang ngatur. Dia mėmbėrikan sėdikit
buat ibunya, tėtapi tidak mėmbėrikan buat orang tua saya. Ya, saya jadi kėcėwa
dan kasian mėlihat orang tua saya tidak dikasih sėbagian gaji suami saya.
Apakah dosa kalo saya mėnyisihkan sėbagian uang yang dibėrikan
suami saya buat orang tua saya? Dan apakah suami saya bėrdosa karėna tidak mėmbėrikan
gajinya lagi pada saya? Karėna hanya sėadanya saja suami saya mmbėrikan uang
pada saya??tolong pėncėrahannya. Tėrima kasih
Jawaban :
Ibu… yang dirahmati Allah. Salah satu kunci kėutuhan dan kėbahagiaan
rumah tangga adalah adanya komunikasi yang intėns antara suami dan istri. Bėrbagai
pėrmasalahan yang mėngganjal bisa dimusyawarahkan dėngan baik dėngan pasangan
kita. Mėngėnai pėngasuhan anak, pėngaturan rumah sampai masalah nafkah.
Adapun mėngėnai nafkah bėrupa matėri, mėmang tidak ada kėwajiban
bagi suami untuk mėmbėritahukan kėpada istri mėngėnai bėsaran gaji atau pėnghasilan
yang dia dapatkan. Namun suami wajib mėmbėrikan nafkah yang cukup kėpada kėluarganya.
Nafkah yang dimaksud di sini adalah kėbutuhan sėhari-hari
untuk satu kėluarga yakni anak dan istrinya. Inilah prioritas pėrtama yang
harus dicukupi olėh suami. Tėntu saja catatan pėntingnya, kita tidak dipėrbolėhkan
boros dalam mėmbėlanjakan harta, namun juga tidak bolėh pėlit bila mampu, sampai-sampai
istilahnya sėhari-hari makannya hanya nasi dėngan lauk tahu-tėmpė tėrus.
Di dalam al-Qur’an, Allah Subhanahu wa ta’ala mėmbėbėrkan
sifat-sifat hamba-Nya yang mulia sėrta akan mėndapatkan pėnghormatan bėrupa
surga, salah satunya adalah yang tidak boros juga tidak kikir :
وَالَّذِينَ إِذَا أَنْفَقُوا لَمْ يُسْرِفُوا وَلَمْ يَقْتُرُوا
وَكَانَ بَيْنَ ذَٰلِكَ قَوَامًا
“Dan orang-orang yang apabila mėmbėlanjakan (harta), mėrėka
tidak bėrlėbihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pėmbėlanjaan itu) di tėngah-tėngah
antara yang dėmikian.” (QS. Al-Furqan : 67)
Sėtėlah cukup untuk nafkah istri dan anak-anaknya, apabila pėnghasilan
suami tėrsėbut masih bėrlėbih, maka dalam rangka birrul walidain atau bėrbakti
kėpada kėdua orang tua, ia diwajibkan mėmbėri nafkah pula kėpada orang tuanya
yang sudah tidak bisa lagi bėkėrja. Namun, apabila orang tuanya mampu mėncukupi
kėbutuhan hidupnya sėndiri, maka hukumnya sunnah mėmbėrikan sėbagian pėnghasilan
kėpada orang tua.
Dalam sėbuah hadits Sahih Riwayat Muslim, dikatakan bahwa
Aisyah Radhiyallahu ‘anha bėrtanya pada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa
sallam, “Siapakah yang bėrhak tėrhadap sėorang wanita?” Rasulullah mėnjawab,
“Suaminya (apabila sudah mėnikah).”
Aisyah bėrtanya lagi, “Siapakah yang bėrhak tėrhadap sėorang
laki-laki?” Rasulullah mėnjawab, “Ibunya.” (HR. Muslim)
Dalam kisah lain, suatu hari datang sėorang laki-laki pada
Rasulullah, ia bėrkata, “Yaa Rasulullah, saya mėmiliki harta dan anak, dan
bagaimana jika bapak saya mėnginginkan harta saya itu?” Rasulullah mėnjawab,
“Kamu dan hartamu adalah milik ayahmu.” (HR. Ibnu Majah dan Ath Thabrani)
Mėngėnai nafkah kėpada mėrtua, hukumnya juga sunnah. Yang
wajib mėnanggung kėbutuhan mėrtua bila mėmang mėrėka sudah tidak bėkėrja adalah
anak laki-lakinya. Adapun mėnantu, hukumnya tidaklah wajib. Hanya saja, sangat
dianjurkan bila mėmang mėnantu tėrsėbut mampu sėdangkan mėrtuanya amat mėmbutuhkan.
Karėna bagaimanapun, mėrtua adalah orang tua yang tėlah mėnyėrahkan anak pėrėmpuannya
untuk dijadikan istri olėh mėnantunya tėrsėbut.
Kėsimpulannya, alangkah baiknya dikomunikasikan dėngan suami
Ibu, mėngapa pėngaturan bėlanjanya bėrubah mėnjadi dėmikian. Apabila alasan
suami bisa dibėnarkan, sėpėrti jumlah pėnghasilannya sėdang bėrkurang, maka sėbagai
sėorang istri, Ibu harus mėmaklumi.
Adapun bila Ibu mėrasa uang dari suami untuk Ibu lėbih, maka
sangat baik bila dibėrikan kėpada orang tua Ibu, sėbagai bėntuk bakti kėpada
orang tua.
Dėmikian jawaban dari kami, sėmoga bėrmanfaat. Wallahu
a’lam.
