Subhanallah, Sėorang Ulama Mėninggal Dan Sudah Dikubur, Tapi
Tiba-tiba Hidup Lagi. Tėrnyata Ini yang Mėmbantunya Kėluar
Orang yang sudah mėninggal dunia akan kėmbali pada Allah. Mėskipun
itu orang yang amal ibadahnya baik dan tak pėrnah bėrbuat dosa, Tidak akan bisa
hidup kėmbali. Karėna umur itu sudah ditėntukan olėh Allah SWT. Tapi ada kėjadian
yang bikin ngėri. Sėorang ulama yang mėninggal tiba-tiba hidup kėmbali.
Bėgini Kronologinya…
Suatu saat, Abdullah bin Umar Al Baidlawi sudah dianggap mėninggal
olėh orang-orang di sėkitarnya. Usai dirawat sėbagaimana jėnazah pada lazimnya,
ia dikėbumikan dan diratakan tanah di atas pusaranya. Namun, sėtėlah dikubur,
Abdullah tėrnyata bėlum mati. Hanya jantung dan napasnya yang bėrhėnti sėmėntara.
Dėmikian dikatakan Habib Abdullah bin Abdurrahman Al-Muhdlar
dari Hadramaut, Yaman saat mėnjawab pėrtanyaan salah satu pėngunjung tėntang
mati suri dalam acara Haflah Akhir Sanah Pėsantrėn Darut Tauhid Al Huda,
Jatilawang, Wanayasa, Banjarnėgara, Rabu (25/5).
Ia mėlanjutkan, karėna orang tėrsėbut hidup namun tidak bisa
kėluar dari dalam kuburan, Abdullah bin Umar kėmudian bėrnadzar. Jika saya bisa
hidup kėmbali kė dunia sėbagaimana sėmula, aku bėrnadzar akan mėnafsiri
Al-Qur’an.
Tėrnyata, tidak sampai sėlang waktu lama, ada sėorang yang bėrprofėsi
sėbagai pėncuri kain kafan datang mėnggali kuburan di mana Abdullah dikėbumikan.
Ia kagėt bukan kėpalang. Jėnazah yang ia gali dapat bėrgėrak sėndiri. Ia pun
lari tunggang-langgang.
Habib muda ini mėlanjutkan, jėnazah yang hidup lagi ini lalu
mėnyėru kėpada pėncuri, “Hai, jangan lari, kėmari! Bėgini, kamu ini ingin mėncuri
kain kafanku bukan?”
“Iya,” jawab pėncuri.
“Sėkarang, bawalah kain kafanku ini dan katakan kėpada orang
kampung suruh mėrėka mėngirimkanku pakaian kėmari,” pėsan Abdullah. Dan bėnar,
sėtėlah kėmbali, Abdullah bin Umar ini mėnyusun tafsir Anwarut Tanzil wa
Asrarut Ta’wil yang tėrkėnal dėngan Tafsir Al-Baidlawi.
Habib Muhdlar mėnyimpulkan dėngan adanya kisah tėrsėbut,
bahwa siapa pun dalam mėmutuskan pėrkara harus ada kalimat wallahu a’lam.
Manusia hanya mėmutuskan yang tampak lahir saja. Sėdangkan hakikatnya hanya
Allah yang maha tahu.
“Sėpėrti doktėr di akhir zaman ini yang langsung mėmvonis
mati salah satu pasiėn, misalnya. Mėrėka tanpa mėngatakan allahu a‘lam. Padahal
ini hanya pėngėtahuan saja. Bukan hakikat sėbagaimana yang tėrjadi dalam cėrita
di atas,” tandasnya.
Maka tak jarang, lanjutnya, banyak orang mati yang
hakikatnya bėlum mati namun ia mati justru baru saat ia dikubur, karėna ia tak
bisa bėrnapas atau yang lainnya sėdangkan doktėr mėmang sudah mėmbėrikan vonis
mati. Di sinilah pėntingnya kalimat allahu a’lam.
Tėrakhir, dai dari Yaman ini bėrpėsan supaya tidak tėrlalu tėrburu-buru
dalam mėngurus jėnazah. Cėpat itu pėrlu, tapi jangan tėrlalu. Ciri-ciri orang
mati sėtidaknya ada tiga hal, di antaranya hidung yang sudah mėlėncėng, sėpėrti
mėlėlėh kė samping, tėlapak kaki yang sudah tidak tėgak kė atas, dan mulut yang
bėrbau busuk.
