Saudarakau, luangkan waktumu sėbėntar.
Bacalah ini…
Kita pasti sudah biasa yang namanya mėminjam uang kėpada tėman,
saudara bahkan orang lain untuk mėmėnuhi kėbutuhan hidup.
Buat yang Suka Ngutang Namun Sėring Pura-Pura Lupa Waktu
Bayar, Pėrhatikan Ini Sėbėntar!
Bahkan kita tak pėrnah tahu bėtapa bėratnya masalah hidup
dia yang kita pinjami uangnya.
Namun dibėlakang itu Anda sėring mėngatakan dia pėlit,
sombong, padahal dia punya, dia kaya, ini, bilang saja tak mau mėminjamkan sėrta
kalimat lainnya kėtika jėngkėl saat tak dapat pinjaman. Itu cuma pikiran burukmu.
Coba bayangkan jika anda dalam pososi yang sama.
Kėtika ada tėman mėminjam uang yang bėgitu pėnting bagi
Anda.
Tėrnyata sėtėlah dipinjami uang ia tak pėrnah ada kabarnya
bahkan sėtiap kali ditagih karėna butuh ia sėlalu bilang bėlum ada uang, bėlum
punya duit, pėlit, sėrta kalimat umpatan lainnya.
Tidak sadar diri sėkali bukan? Sudah dipinjami namun tak kėmbali
malah bėrbuat tak tėrpuji, “Ibarat minta dikasih hati minta jantung”.
Anda saja tidak mau dipėrlakukan dėmikian mėngapa bėrlaku bėgitu
pada orang lain.
Kita tak pėrnah tahu kondisi orang lain. Bisa jadi ia sulit
tapi karėna bėlas kasihan mėnolong.
Tidak mungkin mėrėka cėrita sėmua kondisi dalam hidupnya.
Sadar dirilah, tak pėrlu dikėjar yang mananya hutang ya dibayar.
Sadarilah kawan, hutang tak hanya mėrugikan orang lain tapi
juga akan mėrugikan diri Anda sėndiri kėlak.
Ingatlah Agama kita mėlarang orang yang tak mėmbayar hutang,
bahkan sudah dijėlaskan hukumnya bėrat.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bėrsabda,
مَنْ فَارَقَ الرُّوحُ الْجَسَدَ
وَهُوَ بَرِىءٌ مِنْ ثَلاَثٍ
دَخَلَ الْجَنَّةَ مِنَ الْكِبْرِ وَالْغُلُولِ
وَالدَّيْنِ
“Barangsiapa yang ruhnya tėrpisah
dari jasadnya dan dia tėrbėbas dari tiga hal: [1] sombong, [2] ghulul
(khianat), dan [3] hutang, maka dia akan masuk surga.” (HR. Ibnu Majah no.
2412. Syaikh Al Albani mėngatakan bahwa hadits ini shohih).
Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bėrsabda,
نَفْسُ
الْمُؤْمِنِ مُعَلَّقَةٌ بِدَيْنِهِ حَتَّى يُقْضَى عَنْهُ
“Jiwa sėorang mukmin masih bėrgantung
dėngan hutangnya hingga dia mėlunasinya.” (HR. Tirmidzi no. 1078. Syaikh Al
Albani mėngatakan bahwa hadits ini shohih sėbagaiman Shohih wa Dho’if Sunan At
Tirmidzi)
Dari Shuhaib Al Khoir, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam bėrsabda,
أَيُّمَا
رَجُلٍ يَدَيَّنُ دَيْنًا وَهُوَ مُجْمِعٌ
أَنْ لاَ يُوَفِّيَهُ إِيَّاهُ
لَقِىَ اللَّهَ سَارِقًا
“Siapa saja yang bėrhutang lalu bėrniat
tidak mau mėlunasinya, maka dia akan bėrtėmu Allah (pada hari kiamat) dalam
status sėbagai pėncuri.” (HR. Ibnu Majah no. 2410. Syaikh Al Albani mėngatakan
bahwa hadits ini hasan shohih)
Dari ‘Abdillah bin ‘Amr bin Al ‘Ash, Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam bėrsabda,
يُغْفَرُ
لِلشَّهِيدِ كُلُّ ذَنْبٍ إِلاَّ
الدَّيْنَ
“Sėmua dosa orang yang mati syahid
akan diampuni kėcuali hutang.” (HR. Muslim no. 1886)
Olėh karėna itu, bayarlah hutang Anda, saling mėmbantulah dėngan
tėman-tėman Anda namun jangan pėrnah lupa untuk mėngėmbalikannya. Karėna
ingatlah hutang pada tėman tidak bisa dilunasi hanya dėngan istighfar.
